Begini Cara Bedakan Tas Hermes Asli & Palsu
Victoria Beckham penggemar tas birkin (Foto: pursueblog)
Khusus bagi penggemar tas birkin merek Hermes, Fitria Yusuf dan Alexander Dewi dalam buku berjudul "Hermes Temptation" membagi pengetahuan untuk mengenali tas Hermes asli. Berikut bocorannya untuk Anda:
Jahitan rapi
Tas Hermes asli memiliki jahitan yang rapi. Kendati dijahit dengan tangan, tidak akan muncul gelembung di bagian lipit samping tas. Sementara, bagian lipit samping tas Hermes tiruan (KW 1 atau 2) akan menggelembung.
Tekstur tas
Tekstur tas Hermes asli akan terasa lebih lembut. Namun, diakui keduanya, bagi orang yang baru pertama kali membeli Hermes, membedakan tas Hermes asli dengan yang palsu lewat teksturnya akan sulit.
Besi tas
Besi yang terdapat pada tas sebagai pemanis maupun sabuk tas pada tas Hermes asli akan terasa lebih halus.
Logo Hermes
Logo Hermes biasanya tertera pada bagian besi tas. Logo tersebut bentuknya halus dan seimbang proporsi hurufnya. Pada tas Hermes palsu, bentuk tulisan biasanya terlalu dalam atau besar. Dan yang perlu diingat, terdapat trademark di bagian belakang logo.
Ritsleting
Bentuk ritsleting Hermes sangat khas. Tidak ada yang akan menyamai karena diproduksi sendiri.
Padlock
Bagian kunci dan gembok Hermes asli punya nomor seri yang sama.
Empat kaki cocok
Jika Anda memiliki Hermes asli, maka sebaiknya dibawa saat akan membeli tas Hermes lainnya. Lalu, pasangkan keempat kakinya. Jika pas, maka Hermes yang akan Anda beli asli. Bandingkan juga beratnya, Hermes asli pasti lebih berat.
Stamp
Tas Hermes pasti memiliki stamp Hermes. Pada tas Hermes asli, stamp yang tertera halus dan tidak berantakan tenunannya.
Kendati demikian, diakui keduanya, tas Hermes tiruan kualitas super yang beredar di pasaran belakangan ini sedikit lebih susah dibedakan dengan yang asli.
"Karena memang ada niat orang-orang yang ingin menipu, tas-tas kualitas super punya ciri yang hampir identik dengan tas asli. Terkadang, pembuatnya juga mantan pekerja di industri Hermes sendiri," ujar Alexander Dewi pada peluncuran buku “Hermes Temptation” di Pesto Autentico, Thamrin Nine (UOB Plaza), Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (29/11/2011).
Kenapa Tas Hermes Begitu Dicari?
Kim Kardashian dengan tas dari Hermes (Foto: fashionbeautyglamour)
Kenapa tas Hermes menjadi begitu spesial bagi fashionista? Alasannya diungkapkan oleh Fitria Yusuf (Vivi) dan Alexander Dewi, duo pengarang buku berjudul "Hermes Temptation".
Di negara asalnya, Paris, tas Hermes memang sengaja dibuat terbatas di tiap edisinya (limited edition). Itulah alasan utama yang menyebabkan orang merasa puas dan bangga bila menjadi satu dari sejumlah kecil pengoleksi edisi tas ini.
"Kuantitas terbatas, di luar negeri belum pasti ada jatahnya," ujar Vivi, sapaan akrab Fitri Yusuf pada peluncuran buku “Hermes Temptation” di Pesto Autentico, Thamrin Nine (UOB Plaza), Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (29/11/2011).
Sebagai barang dengan jumlah terbatas, tentu butuh upaya ekstra untuk memerolehnya. Bahkan dengan ketersediaan dana besar sekalipun, rupanya tidak semua orang berhasil menjadi pemilik tas Hermes asli.
"Karena barang langka, maka orang sampai harus masuk waiting list dua tahun sebelumnya kalau membeli langsung dari butik," tambahnya.
Pamor tas Hermes juga disumbang karena pemakainya merupakan selebriti kelas dunia. Maka tidak mengherankan jika banyak orang kemudian rela merogoh kocek lebih dalam untuk membeli tas reseller alias bekas pakai.
"Hermes itu fenomena, dilirik lagu disisipin, selebriti menggunakan, enggak asing pokoknya," tutupnya.
Hermes Birkin, Tas Termahal di Dunia
Victoria Beckham dengan Hermes Birkin (Foto: hermeshandbagoutlet)
Di dunia mode, Hermes memang merupakan label yang menghadirkan koleksi tas incaran fashionista. Harganya yang melangit dianggap relevan dengan status sosial yang disandang si pengguna.
Namun, dalam lelang yang dihelat Heritage Auction itu, tas berjenis Crocodile Birkin Bag dari lini koleksi istimewa Hermes, Shiny Rouge, berhasil memecahkan rekor dunia sebagai tas termahal yang terjual dalam sebuah lelang publik. Tas tersebut terjual dengan harga USD203.150 atau setara dengan Rp1,8 miliar.
Harga miliaran yang disandang Crocodile Birkin Bag itu bukanlah pepesan kosong. Tas berwarna merah mengkilap tersebut berukuran 30 cm dibuat dari kulit buaya, dengan detail “hardware” berupa gembok dan kunci dari emas putih 18 karat serta berlian.
Wanita yang berhasil memenangkan lelang tersebut meminta identitasnya dirahasiakan. Adapun, Crocodile Birkin Bag tersebut awalnya merupakan milik seorang perempuan berduit asal Florida. Dia membeli tas tersebut pada 2006 dan menganggap tas merah itu sebagai “juara” dari sekian banyak tas Hermes yang dikoleksinya.
Ketika Hermes menawarkan versi yang sama dengan warna hitam, si wanita kemudian memutuskan menjual tas tersebut lewat rumah lelang. Selain Crocodile Birkin Bag, Heritage Auction juga berhasil melelang beberapa tas Hermes lainnya, semuanya juga dengan harga fantastis.
Dua versi “jumbo” Birkin dalam warna biru serta merah dengan ukuran 35 cm, dan hardware dari paladium, berhasil terjual dengan harga USD113.525 (Rp1,03 miliar) dan USD96.000 (Rp869 juta), dan tas Birkin lainnya yang berukuran 30 cm dari jenis Himalayan, berhasil terjual dengan harga USD80.663 (Rp730 juta).
“Harga yang kami dapatkan dari lelang ini benar-benar luar biasa, melebihi ekspektasi,” ujar Direktur Aksesoris Mewah Heritage Auctions Matt Rubinger, saat diwawancarai WWD.
Rubinger mengatakan, ekspektasi Heritage Auction untuk tas tersebut adalah USD80.000. “Harga ini juga menunjukkan betapa Hermes merupakan label yang berhasil mendesain tas yang paling luar biasa di dunia,” sambungnya.
Lebih lanjut, Rubinger menjelaskan, Hermes memang menjadi brand aksesori yang paling dicari dan merupakan simbol kemewahan dan eksklusivitas. Hermes juga memastikan bahwa setiap tas yang dihadirkannya istimewa. Setiap pekerja kreatif hanya mengerjakan satu tas, dan setiap tas membutuhkan waktu produksi antara 18–24 jam.
Birkin sendiri merupakan tas tangan yang dirilis pada 1984, sebuah penghormatan bagi aktris dan penyanyi Jane Birkin, yang mengeluhkan kepada CEO Hermes pada waktu itu, Jean-Louis Dumas, betapa sulitnya mencari sebuah tas tangan kulit berkualitas.
Mesin Uang
Di era ini, tas tangan adalah roda pemutar pundi-pundi rumah mode serta label fashion, selain parfum. Label-label papan atas dunia seperti Hermes, Christian Dior, Prada, Chanel, Fendi, Gucci, dan Louis Vuitton, berlomba-lomba menghadirkan the it bag, bersaing dengan label yang memang berjalan di jalur aksesori dan leather product layaknya Bottega Veneta, Loewe, Kate Spade, Jimmy Choo, atau Anya Hindmarch.
“Pasar menginginkan tas dan sepatu yang memberi pernyataan dan para desainer memenuhi kebutuhan itu,” sebut editor mode Pauline Westin Thomas.
Hermes punya Kelly dan Birkin, dua tas tangan ikonik dengan daftar pemesanan panjang. Tapi tentu saja, berbicara tas berlabel ternama berarti membicarakan uang dalam jumlah banyak.
Jika Jimmy Choo menjual koleksinya dengan rata-rata USD300, maka Hermes bisa menjual Birkin dengan harga USD6.000 untuk ukuran yang paling kecil dan bisa mencapai harga puluhan bahkan ratusan ribu dolar bergantung pada ukuran dan materialnya. Apa yang membuat Birkin dan Kelly begitu banyak digilai kaum hawa?
Pamela Danziger, penulis buku Why People Buy Things They Don’t Need dan pendiri perusahaan riset pasar mewah Unity Marketing mengatakan, “Orang-orang cenderung membelanjakan uang mereka untuk sesuatu yang membuat mereka senang, dan bagi wanita, tas tangan dan sepatu termasuk dalam kategori itu.”
Sementara untuk Birkin dan Kelly, Danziger mengatakan hal tersebut berhubungan dengan simbol status. “Bagi banyak wanita, Birkin dan Kelly dari Hermes identik dengan kemewahan dan dengan memilikinya, otomatis status sosial mereka pun ikut terangkat,” paparnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar